Selasa, 09 April 2013

TUGAS 1


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Konsep sehat pada sekarang ini memang sangat dibutuhkan untuk kehidupan sehari – hari dimana hampir setiap orang bekerja setiap hari, Bahkan ibu rumah tangga pun banyak yang sekarang bekerja, zaman sekarang konsep tersebut bermanfaat tetapi sebagian orang tidak perduli dengan konsep kesehatan, seperti ibu rumah tangga yang bekerja di luar dan tidak mengurus anaknya sendiri untuk dirinya saja dia kurang perduli dengan kesehatan karena lebih memikirkan pekerjaan. Sebagian besar masyarakat kurang perduli dan kurangnya pengetahuan tentang kesehatan. Dari tugas ini dapat dipahami oleh masyarakat akan pentingnya kesehatan.
1.2    Rumusan Masalah

1.        Konsep kesehatan berdasarkan dimensi : emosi, intelektual, sosial, fisik, dan spiritual
2.        Teori perkembangan kepribadian teori dari Erikson, Freud, Allport

1.3    Tujuan

1.        Untuk mengetahui konsep kesehatan beserta dimensi-dimensinya
2.        Mengetahui dan memahami teori-teori kepribadian



BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Konsep Kesehatan
           
Kesehatan yang biasa diartikan dari kesakitan atau kebaikan jasmani, banyak orang mengatakan dari fisik jasmani sehat atau sakit. sehat adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya. Pengertian sehat menurut UU Pokok Kesehatan No. 9 tahun 1960, Bab I Pasal 2 adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan (jasmani), rohani (mental), dan sosial, serta bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan. Pengertian sehat tersebut sejalan dengan pengertian sehat menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1975 sebagai berikut: Sehat adalah suatu kondisi yang terbebas dari segala jenis penyakit, baik fisik, mental, dan sosial. Dengan demikian, upaya kesehatan yang dilakukan, diarahkan pada upaya yang dapat mengarahkan masyarakat mencapai kesehatan yang cukup  agar dapat hidup produktif.
Dalam hal ini saya akan menjelaskan tentang lima konsep kesehatan berdasarkan dimensinya antara lain dimensi fisik, sosial, emosional, intelektual, dan spiritual. Berikut penjelasannya :

a.    Dimensi Emosi
emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Kemampuan emosional adalah kemampuan stress dan mengekspresikan emosinya yang dapat di terima oleh orang lain. Kesehatan emosi mencakup kemampuan untuk bertanggung jawab, menerima, dan menyamaikan perasaannya serta dapat menerima keterbatasan orang lain.

b.    Dimensi Intelektual
Dalam dimensi ini, seseorang memiiki intelegensi yang cukup tinggi. Dalam dimensi ini ia mampu menyerap berbagai pelatihan atau pendidikan dengan penyerapan yang lebih cepat, serta mudah memahami berbagai aspek materi tanpa mengalami kesulitan dalam proses kognitif dalam belajar. Kesehatan intelektual meliputi usaha untuk secara terus-menerus tumbuh dan belajar untuk beradaptasi secara efektif dengan perubahan baru.
c.    Dimensi Sosial
Dalam dimensi sosial ini masyarakat yang memiliki intelektual tinggi atau memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat luar dan lingkungan. Dalam dimensi ini, seseorang lebih terlihat mengalami kepekaan sosial yang tinggi, ia sehat dalam kerangka sosial bermasyarakat, seperti mudah bergaul, mudah beradaptasi, tidak mengalami krisis identitas, merupakan bentuk dari kepribadian yang sehat dalam dimensi sosial.

d.   Dimensi Fisik
Fisik merupakan utama bagi kehidupan, fisik merupakan jasmani bagi manusia fisik yang dibagi menjadi sehat atau sakit. Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan. Karena itu kita harus menjaga pola hidup sehat dan memperdulikan keadaan fisik agar sehat dan baik.

e.    Dimensi Spiritual
Dimensi spriritual ini juga menjadi bagian terpenting dari kesehatan mental pribadi seseorang, Spiritual merupakan kehidupan kerohanian. Dengan menyerahkan diri dengan bersujud dengan kepercayaan agama masing-masing. Sementara orang yang sehat secara spiritual adalah mereka yang memiliki suatu kondisi ketenangan jiwa dengan id mereka. Secara rohani dianggap sehat karena pikirannya jernih tidak melakukan atau bertindak hal-hal yang diluar batas kewajaran sehingga bisa berpikir rasional. Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana  ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa.

2.2 Teori Perkembangan Kepribadian

a.         Teori Erikson
Erik Erikson adalah seorang psikolog yang merupakan murid dari Sigmund Freud seorang tokoh psikoanalitik. Erikson mengambil psikoanalitik sebagai dasar teorinya namun ia mengikut sertakan pengaruh-pengaruh sosial individu dalam perkembangannya. Berbeda dengan Freud yang berpendapat bahwa pengalaman masa kanak-kanak, terutama di lima tahun awal, yang mempengaruhi kepribdian seseorang ketika dewasa. Erikson berpendapat bahwa masa dewasa bukanlah sebuah hasil dari pengalaman-pengalaman masa lalu tetapi merupakan proses kelanjutan dari tahapan sebelumnya.
Erikson berpendapat sama dengan Freud yaitu mengatakan bahwa identitas sudah ditentukan dan terbentuk sejak kanak-kanak, pada usia lima atau enam tahun. Erikson berpendapat bahwa pembentukan identitas merupakan proses yang berlangsung seumur hidup.
            Dalam setiap tahapan, Erikson percaya setiap orang akan mengalami konflik/krisis yang merupakan titik balik dalam perkembangan. Erikson berpendapat, konflik-konflik ini berpusat pada perkembangan kualitas psikologi atau kegagalan untuk mengembangkan kualitas itu. Selama masa ini, potensi pertumbuhan pribadi meningkat. Begitu juga dengan potensi kegagalan Berikut tahapan nya :

  • Basic Trust vs Basic Mistrust (Kepercayaan Dasar Vs Kecurigaan Dasar) Usia 0-1th
pada tahap kepercayaan dasar yang paling awal ini terbentuk selama tahap sensorik-oral dan di tunjukkan oleh bayi lewat kapasitasnya tidur dengan tenang dan makan dengan nyaman. Kebutuhan akan rasa aman dan ketidakberdayaan menyebabkan konflik yang dialami oleh anak dalam tahap ini adalah kepercayaan. Bila rasa aman terpenuhi, maka akan berkembang pula kepercayaan nya pada lingkungan. Dan sebaliknya bila terganggu dengan lingkungan, maka akan sulit untuk mengembangkan kepercayaan. Pada tahap ini ibu memegang peranan penting.

  • Autonomy vs Shame & Doubt (Otonomi Vs Perasaan Malu  dan Keragu-raguan) Usia 2-3th
Pada tahap kedua ini terjadi tahap muscular-anal dalam skema psikososial. Pada masa ini organ dan fungsi tubuh sudah mulai masak dan terkoordinasi, anak dapat melakukan gerakan secara lebih bervariasi. Dan karena itu konflik yang dihadapi pada masa ini lebih kepada pengakuan, pujian untuk mengembangkan percaya diri. Kedua orang tua memegang peranan penting pada masa ini.
  • Initiative vs Guilt (Inisiatif  Vs Rasa Bersalah) Usia 3-6th
Pada tahap ini anak sudah mulai berinisiatif atau memiliki perasaan bebas untuk melakukan sesuatu. Tapi bila dia mengembangkan keraguan sebelumnya, maka yang akan berkembang malah rasa bersalahnya.
  • Industry vs Inferiority (Kerajinan Vs Inferioritas) Usia 6-11th
Pada tahap ini anak mulai dapat berfikir logis dan sudah mulai bersekolah. Konflik yang dihadapi pada masa ini adalah perasaan sebagai seorang yang mampu atau perasaan rendah diri. Bila  ia mengembangkan kemampuannya maka akan berkembang pula gairah untuk lebih produktif.
  • Identity vs Role Confusion (Identitas Vs Kekacauan Identitas) Mulai Usia 12th
Pada tahap ini anak lebih dihadapkan pada tutuntan untuk lebih mengenal dirinya dimana dia sudah mulai harus memikirkan masa depannya. Konflik yang dihadapi adalah perasaan menemukan jati dirinya atau malah kekaburan diri.
  • Intimacy vs Isolation (Keintiman Vs Isolasi) Mulai Usia Dewasa Awal
Pada tahap ini individu sudah mulai mencari pasangan hidup. Konflik yang dihadapi pada masa ini tentunya  adalah kesiapan untuk berhubungn dengan orang lain. Seseorang yang telah melewati tahap ini akan mendapatkan perasaan kemesraan dan keintiman.
  • Generativity vs Self-absorbtion (Generativitas Vs Stagnasi) Usia Dewasa
Pada tahap ini konflik atau krisis yang dihadapi adalah dimana muncul perasaan tuntutan untuk membantu orang lain diluar keluarganya, seperti masyarakat umum. Pada tahap ini pengalaman yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk berbuat sesuatu di masyarakat.

  • Ego Integrity vs  Despair (Integritas Vs Keputusasaan) Usia Dewasa Akhir
Pada masa ini seseorang akan mulai menengok masa lalu. Prestasi dan segala sesuatu yang didapat dimasa lalu akan menghasilkan kepuasan. Dan apabila apa yang diraih pada masa lalu tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka akan menimbulkan rasa kecewa.

b.      Teori Freud
Menurut Freud kepribadian adanya dorongan-dorongan biologis, yang bersifat paternal yaitu dorongan atau control dari seorang ayah, motif utama tingkah laku manusia yaitu dari kesenangan seksual. Konsep dasar Freud adalah instink, yaitu merupakan representasi psikologi dari kebutuhan ragawi, untuk memenuhi kebutuhan fisiologis. Teori psikologi Freud didasari pada keyakinan bahwa dalam diri manusia terdapat suatu energi psikis yang sangat dinamis. Energi psikis inilah yang mendorong individu untuk bertingkah laku. Menurut psikoanalisis, energi psikis itu berasumsi pada fungsi psikis yang berbeda yaitu: Id, Ego dan Super Ego.
a)      Id merupakan bagian paling primitif dalam kepribadian dan dari sinilah nanti Ego dan Super Ego berkembang. Dorongan dalam Id selalu ingin dipuaskan dan menghindari yang tidak menyenangkan.
b)      Ego merupakan bagian “eksekutif” dari kepribadian, ia berfungsi secara rasional berdasakan prinsip kenyataan. Berusaha memenuhi kebutuhan Id secara realistis, yaitu  dimana Ego berfungsi untuk menyaring dorongan-dorongan yang ingin dipuaskan oleh Id berdasarkan kenyataan.
c)      Super Ego merupakan gambaran internalisasi nilai moral masyarakat yang diajarkan orang tua dan lingkungan seseorang. Pada dasarnya Super Ego merupakan hati nurani seseorang dimana berfungsi sebagai penilai apakah sesuatu itu benar atau salah. Karena itu Super Ego berorientasi pada kesempurnaan.



Ada 6 fase yang membagi perkembangan manusia menurut Freud:
  1. Fase oral (0-1 tahun) : Disini anak mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dengan berorientasi pada mulut. Kontak sosial lebih bersifat fisik seperti menyusui.
  2. Fase anal (1–3 tahun) : Pada fase ini kenikmatan berpusat didaerah anus, seperti saat buang air besar. Inilah saat untuk mengajarkan disiplin pada anak. Pada fase ini balita merasa puas dapat melakukan aktivitas buang air besar dan buang air kecil. Fase ini dikenal pula sebagai periode "toilet training".
  3. Fase falik (3–5 tahun) : Pusat kepuasan pada fase ini adalah alat kelamin. Anak mulai tertarik pada perbedaan anatomis laki-laki dan perempuan, dan biasanya difigurkan oleh ayah dan ibu.
  4. Peride laten (5–12 tahun) : Merupakan masa tenang dimana anak mulai mengembangkan kemampuan motorik dan kognitifnya. Anak mulai mencoba menekan rasa takut dan cemas.
  5. Fase genital ( > 12 tahun ) : Tahap kematangan pada alat reproduksi, pusat kepuasaan berada di daerah kelamin. Mulai merasakan cinta kepada lawan jenis.
Dinamika kepribadian menurut Freud dalam kualitas dan teleology adalah kausalitas sikap seseorang pada masa dewasa tergantung pada masa kecilnya.
c.       Teori Allport
Allport lebih optimis tentang kodrat manusia daripada Freud, dan ia memperlihatkan suatu keharuan yang luar biasa terhadap manusia, sifat-sifatnya yang tampaknya bersumber pada masa kanak-kanaknya. Allport menyatakan bahwa kepribadian manusia akan berubah-ubah mengikuti fase perkembangan yang sedang dilaluinya. Secara umum teori Allport memberi definisi yang positif terhadap manusia, teori Allport itu telah membantu manusia untuk melihat diri sendiri sebagai mahkluk yang baik dan penuh harapan. Memandang satu pribadi positif dan apa adanya merupakan salah satu definisi pribadi sehat, inilah kelebihan dan kekuasan dari teori Allport. Kepribadian manusia menurut Allport adalah organisasi yang dinamis dari system psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik atau khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Individu didorong untuk terampil melakukan sedapat mungkin mencapai/memenuhi tingkat penguasaan dan kemampuan yang tinggi dalam usaha pemenuhan motif-motif (Visi&misi, tujuan jangka panjang, tegangan yang semakin ditambah). Individu yang sehat tidak pernah berhenti mengejar point dalam tujuan mereka, setiap point yang jatuh dalam tujuan mereka selalu diganti oleh point dengan tujuan yang lain.

Tingkatan proprium/self :
1. Kesadaran akan “saya secara jasmaniah”.
2. Identitas diri.
3. Harga diri. Kebutuhan anak akan otonomi. Disini individu masih dalam tahap         
    perkembangan anak Yang mengalami konflik autonomy vs shame & doubt.
4. Perluasan diri.
5. Gambaran diri. Terbentuk/berkembang dari interaksi orangtua dan anak. Dalam  
    mempelejari interakso ini anak melakukan suatu perumusan tentang intensi.
6. Rational thinking. Individu menyadari bahwa ia dapat memecahkan suatu msalah
    dengan menggunakan proses yang logis dan rasional.
7. Propriate Striving. Terjadi pada saat individu memasuki masa adolescence. Karena
    telah memiliki pemahaman akan arti hidup sepenuhnya.



BAB III
KESIMPULAN

Konsep kesehatan dari segi arti adalah kesehatan fisik jasmani tetapi kesehatan rohani juga perlu karena manusia dikatakan sehat jika jasmani dan rohaninya itu baik sehat dan tidak sakit, karena jika hanya jasmaninya saja yang sehat tetapi rohaninya tidak baik orang itu dapat dikatakan sakit bahkan sebaliknya. Kesehatan mental merupakan hal yang sangat penting untuk menjalankan proses kehidupan dalam keranga sosial, kesehatan mental merupakan kesehatan jiwa pada seseorang, sehingga kesehatan mental memiliki pengaruh khusus terhadap pertumbuhan kejiwaan manusia. Pentingnya kesehatan mental yang melingkupi berbagai aspek dimensi seperti kesehatan secara emosi, kesehatan intelektual, kesehatan sosial, kesehatan fisik, juga secara spriritual akan membantu menyelaraskan manusia menjalani kehiduan keseharianya dalam bermasyarakat. Hubugan nya dengan teori kepribadian oleh para ahli dengan penjelasan yang dikemukaan merupakan suatu bentuk sarana untuk membantu menemukan identitas dirinya, agar lebih mudah dalam mempelajari kehidupan, ketika manusia memahami konsep diri nya maka ia akan lebih mudah juga untuk mengetahui eksistensinya, diharapkan dengan ada nya teori dari para ahli berdasarkan eksperimen, mampu membantu pemecahan masalah pada manusia itu sendiri.



DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar